Postingan

Mudik Jadi Polemik

Gambar
Home. (dok.pribadi) Ini adalah foto rumah, tepatnya rumah nenek, di mana saya menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja. Waktu itu, kami masih menumpang di rumah nenek yang diisi adik-adik dari ibuku. Bukan hanya suka, kenangan kurang manis, lucu, dan teu kudu banyak tersimpan di rumah yang konon dibangun di tahun 50an ini. Dah gitu aja, lah ini bukan posting foto tantangan, kok! Mudik. Ya, sebenarnya saya ingin bincangin soal mudik. Rutinitas tahunan yang kini jadi polemik dan sepertinya saya pun harus merelakan untuk menunda mudik meski pemerintah tak melarang untuk itu. Inilah yang menjadi menarik. Di tengah merebak wabah corona, idealnya, orang-orang yang berada di pusat penyebaran harus tetap berada di daerah tersebut. Maksudnya, tentu agar penyebaran tidak lantas menjadi tak terkendali ke daerah sebagai efek dari mobilisasi massa dari pusat pandemi menuju daerah asalnya masing-masing. Sayang, dari jauh hari sebelum hari raya, gelombang mudik ternyata sudah mulai ...

Sempurna (cerpen)

Gambar
Purnama (pixabay.com) “Kurang ajar!” Amarahku naik ke ubun-ubun tanpa perlu menunggu jeda untuk mengatur nafas dan ritme jantung yang tiba-tiba naik temponya mirip lagu perfect , miliknya Ed Shareen, yang dibawakan dalam versi koplo. Jangankan sunyi malam, aroma terapi dari pengharum ruangan di atas meja rias yang tak pernah kubiarkan kosong pun tak mampu lagi menebarkan ketenangan di dalam benakku. Jika saja gambar yang kutatap nanar saat ini serupa foto kami berdua, aku dan suami, yang masih setia kuselipkan di dompet lepet yang usia keduanya hampir sama tua; pasti sudah kuremas, kuinjak-injak, untuk kemudian kupungut kembali dan kumutilasi sampai potongan-potongan terkecil yang tak mungkin bisa lagi membentuk rupa mereka berdua—suamiku dan kekasih lain-nya. Sayang, nafsuku tak temui jalannya. Foto mereka bukan tercetak di atas kertas. Wajah sumringah menyebalkan itu menempel di layar gawai suamiku yang kini sedang mendengkur mirip kebo kelelahan setelah membajak berhektar sa...

Mati Konyol (cerpen)

Gambar
pixabay.com "Den, Si Ibu marah. Katanya nggak boleh bawa temen ke sini," Belum juga aku naik tangga menuju lantai dua, lantai di mana kamar kosku terletak di deret kamar lantai tersebut, Agus sudah memotong langkahku. Dengan gayanya yang feminim, penjaga kos kami ini, menyampaikan pesan majikannya yang kurang enak didengar. "Kang Agus, Si Ibu gitu amat, sih! Temen saya kan cuma sesekali mampir. Nggak pernah nginep, juga! Masih aja diomelin!" protesku sama Agus. "Iya, Den, kan tetep pake listrik sama air," kilahnya dengan tatapan penuh kelembutan dan kasih sayang yang membuatku merinding. Eh iya, loh! Ini kosan yang aneh. Apa cuma buatku? Entahlah. Tapi, sejak pertama datang aku memang sudah nggak nyaman dengan keadaan di sini. Hanya alasan dekat kerjaan yang membuatku bertahan. Ibu kosnya udah tua, jarang keluar, tapi paling semangat giliran nagih bayaran. Belum juga masuk awal bulan, biasanya satu atau dua hari sebelumnya, pasti ada s...

Menyisir Potensi Agrowisata Sumedang dari Paseh, Congeang, sampai Buahdua

Gambar
Kios-kios atau warung buah-buahan di depan gerbang Pemandian Cileungsing, Buahdua. (dok.pribadi) Jika Anda merindukan hamparan alam yang masih asri, indah, dan menyejukan, maka bertandanglah ke Sumedang. Lekat dengan nuansa pedesaan, daerah yang dinaungi Gunung Tampomas ini dijamin mampu memanjakan mata Anda dengan pesona alamnya yang begitu luar biasa. Air yang mengalir jernih, rimbun pohon yang menyejukan, dan hampar pesawahan berundak mengikuti kontur tanah yang berbukit, bisa Anda dapati di hampir setiap sudut Kabupaten Sumedang. Namun, akan butuh waktu tak sebentar jika kita ingin menjelajahi semua tempat di Wewengkon 1  Sumedang ini. Karenanya, di kesempatan kali ini, jalan-jalannya kita batasi hanya di Kawasan Paseh, Congeang, dan Buahdua. Kok? Kenapa hanya tiga daerah ini? Karena secara geografis, ketiga daerah setingkat kecamatan ini berada di satu jalur yang runut dan memudahkan kita untuk menyusurinya. Itu yang pertama. Alasan lainnya, ketiga daerah ini meru...

Alasan Kenapa Tanah Kavling Lebih Mahal dari Tanah Lahan

Gambar
Ilustrasi tanah kosong. (dok. pribadi) Di masa awal-awal menjalani tugas sebagai penilai properti, saya pernah terkejut mendapati sebuah perbedaan mencolok antara harga jual tanah kavling dan nilai tagihannya pada lembar PBB. Oleh pengembang, kavling tersebut dijual dengan harga 1,5 juta rupiah / meter persegi sedang pada lembar tagihan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) hanya bernilai 30 ribu rupiah / meter persegi. Jomplang gila, kan! Pengembang yang serakah, apa pemerintah yang tak paham nilai pasar setempat? Jika kita tak paham duduk persoalannya, tentu, tanya seperti itu sangatlah wajar terlontar. Namun, meraba diri sebagai seorang yang tak paham, sebaiknya kita mencari rasionalisasi dari perbedaan harga tersebut alih-alih protes tanpa alasan ilmiah yang malah bisa bikin kita malu. Berbagi sedikit pemahaman, di sini saya akan mencoba memaparkan alasan yang saya harap dapat menjadi rasionalisasi dari perbedaan harga di atas. Tapi sebelumnya, saya infokan, nilai yang...

Konflik Uighur, Pelik di Mata Saudara Sendiri

Gambar
Muslim Uighur berdemontrasi dengan membawa foto Mesut Oezil. Ciutan Oezil tentang Uighur sempat viral dan membuat gerah Cina. (Gambar: swaranesia.com) Oleh: Andris Susanto Sebagai seorang yang superior dalam rumah tangga, seorang suami sangat mungkin melakukan pressure, intimidasi, bahkan kekerasan, terhadap pihak-pihak inferior di lingkungannya. Sebuah kejadian semisal beberapa waktu lalu sempat terjadi tak jauh dari tempat saya tinggal. Dinilai berpotensi menimbulkan korban di luar konteks kewajaran berumah tangga, para tetangga yang mengetahui hal tersebut memutuskan untuk masuk ke wilayah perselisihan dan alhamdulillah, berhasil menghentikannya. Dalam konteks bermasyarakat, gambaran perselisihan rumah tangga di atas, tentu, masuk ke dalam ranah privat sebuah keluarga. Namun, saat perselisihan berkembang ke arah yang membahayakan dan tak lagi wajar, sikap pihak-pihak di luar lingkaran yang memutuskan masuk ke dalam konflik internal sudah menjadi sebuah keharusan karena ...

Menunai Janji (Cerpen)

Gambar
(Dok.Pribadi) Memandang taman tol dari balik jendela bus selalu memberiku kesenangan tersendiri. Ada tenang yang dihantar hampar hijau rerumputan; ada harap, ratap rindu kan tergenap sesampainya aku di tempat tujuan--kampung halamanku. Tapi itu versiku. Aku tak tahu apa yang ada di benak perempuan di sebelahku. Apakah akan sama atau tidak? Biarlah. Sedari tadi perempuan yang tak lain adalah istriku itu hanya terduduk di jok bus yang kami tumpangi. Dia belum bercakap apapun selain mengingatkan Asad, anak kami, untuk menghabiskan sarapannya. "Makasih ya, udah mau ikut," ucapku kepadanya guna memecah keheningan. "Iya, masa aku biarkan Aa pergi sendiri. Aku juga sayang sama Bibi!" jawabnya pelan sambil tersenyum. "Syukurlah!" lirihku dalam hati. Tak peduli apa itu senyum tulus atau bukan, paling tidak, pengakuan tersebut membuat perasaan tak enak di hatiku sedikit berkurang. Sebelumnya, kepergian kami ke Cianjur memang harus melalui pro...