Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Di Bawah Purnama (Prosais)

Gambar
Full moon, pixabay.com Tak jadi juga kau datang kiranya. Padahal, sungguh berharap besar diriku, di purnama kali ini, kau akan hadir dan melewatkan malam di ruang terbuka ini untuk bercerita soal kisah hidupmu atau untuk sekadar mengenang masa lalu. Tak terlalu manis memang, aku yang hanya memiliki asa sederhana untuk merasakan lagi keakraban lama pasti saja kau suguhi indah cerita tentang kesuksesanmu, anak-anakmu, dan segala hal baru tentang dirimu, tanpa punyai jeda untuk memotong dan memintamu sejenak berhenti berbicara--menikmati keintiman kita. Bagaimanapun, aku masih menyimpan kenangan-kenangan lama yang juga manis dalam versiku. Tidakkah kau juga? Belasan tahun mestinya bukan waktu yang pendek untuk dengan mudahnya ikatan antara kita terhapus oleh banyaknya ruang lain yang telah kau singgahi kini. Aku turut bahagia. Aku tak sepicik itu untuk enggan menoleransi betapa perlu kau merasakan suasana-suasana lain di luar sana. Hanya saja, tanpa hadirmu, ada-ku seolah sem...

Apa Dosa? (Cerpen)

Gambar
Regret, sumber: ecr.co.za Setelah dua hari lalu hujan turun merata di setiap jengkal kota, sore ini memang belum ada tanda-tanda dia akan kembali menyapa. Sungguh, di era serba cepat ini, udara pun bisa ikut memanas dengan instan. Baru ditinggal hujan sebentar saja, suhu udara sekarang sudah gesit meninggi tanpa mampu dihambat rindangnya pohon dan sejuknya air sungai yang mengalir. Lah, memang keduanya sudah jarang ada di sumpeknya tata ruang kota, kan? Di sini, tanda-tanda kasih sayang alam sudah lazim diganti oleh berjajarnya gedung bertingkat dan deru dari beribu kendaraan penghasil bising dan debu. Sejurus panas di luar, suhu udara dalam ruangan pun mulai menghangat lebih dari biasanya. Termasuk di ruanganmu--salah satu ruang tertutup di lantai tiga tempatmu bekerja. Tapi, aneh saja jika sekarang hal itu membuatmu begitu kegerahan. Ruang kantormu terbilang bagus dengan segala fasilitas yang memadai ada di sana. Jadi, kalo untuk sekadar gerah, udara sejuk dari tiupan AC d...

Main Kuda-kudaan, Yuk! (Cerpen)

Gambar
Gambar: pixabay Di satu pagi yang cerah, terdengar obrolan antara dua ibu-ibu di sebuah warung sayur satu-satunya di lingkungan pemukiman bergang sempit setingkat RT. Agak aneh menurutku, masih banyak tanah kosong, rata-rata rumah punya halaman, tapi jangankan mobil, motor saja tak bisa berpapasan untuk lewat di akses yang ada di kampung ini. "Jarang keliatan, Bu Guru?"  Entah nyindir karena jarang belanja atau apa, Ceu Anah, Si Pemilik Warung, membuka percakapan dengan mengungkap kangennya kepada Bu Siti. Tetangganya yang memang sudah lama tak belanja di warung Ceu Anah. "Iya, nambah ngajar di SD, Ceu Anah." "Waduh, nggak cape? Mana sambil jualan baju lagi ya, Bu?" "Yah... mau gimana lagi. Syarat sertifikasi, Ceu. Jualan masih, cuma agak sepi sekarang mah." "Duh, padahal saya mau minta Bu Guru ngajarin anak saya ngaji. Bu Guru ngajar agama kan, ya?" "Oh...hehe, iya," jawab Bu Siti sedikit malu. ...

Cerita Panas (Cerpen)

Gambar
Gambar: pixabay.com "Ah... selesai juga," lirih Asep dalam hatinya sesaat setelah kalimat penutup itu dia genapkan pada paragraf utama yang menjadi inti dari cerita yang sedang ditulisnya. Ini bukan hal mudah buat Asep! Demi misinya ini, jam di seberang dinding ruangan tempat dia terduduk pun telah menunjuk ke hari yang lain. Dan nyatanya, cerita asep belum juga selesai. Baru inti cerita yang dia pikir bisa mendobrak jumlah pembaca. Sungguh, untuk kali ini dia sampai harus jungkir balik mencari diksi, mereka majas, menabir segala ketabuan dalam benaknya untuk menjadi layak, demi tulisannya tetap bisa ditampil, menggelitik, dan digilai di luar sana. Kalo mungkin, itu juga! "Harus nyerempet-nyerempet, sepertinya!" komentar pertama itulah yang muncul di kepalanya saat tercengang melihat sebuah cerpen yang berhasil mengepul puluhan ribu pembaca hanya dalam waktu setengah hari mengapung di dunia maya. Geleng-geleng kepala Asep tak percaya, tapi apa...

Sawah, Sebuah Cerpen

Gambar
Sawah Sudah sangat berbeda, pesawahan itu kini tinggal menyisakan dua garis pematang yang memisahkan 3 sisi petak-petak sawah di kiri dan kanannya. Panjang masing-masing pematang tak lebih dari 200 meter. Jumlah petak sawahnya pun tinggal tujuh belas. Persis usiaku sekarang. Kontras dengan 13 tahun lalu saat aku dan bapakku sering duduk di pinggir pematang yang sudah dilapis semen dan lebih mirip jalan gang daripada galengan . Sedari dulu, pematang tengah pesawahan ini memang telah dibuat lebih kokoh karena difungsikan bukan sekedar pembatas hak para pemilik sawah tetapi juga jalan penghubung antara kampungku dengan jalan desa. Karenanya, pematang ini lebih sering diinjaki ban sepeda motor daripada kaki kerbau yang hendak membajak sawah. Kerbau yang membajak sawah. Ya, itulah alasanku kerap kali merengek minta jalan-jalan ke sawah pada bapakku. Biasanya, bapakku sudah duduk di kursi depan ditemani kopi hitam beraroma khas. Jika aroma kopi sudah kucium, mata sepet ...